Updated |
![]() |
Senin, 18 September 2023 |
Kenaikan harga Oil (CLS10) terpangkas tajam pada perdagangan sesi Eropa setelah menyentuh level tertinggi harian US$ 91,67 per barel. Sesuai dengan proyeksi Macro Overview Eropa, kenaikan Oil terpangkas akibat aksi profit taking.
Oil sedang dinaungi sentimen positif baik dari sisi supply maupun demand. Pemangkasan produksi yang dilakukan Arab Saudi dan Rusia hingga akhir tahun menjadi sentimen positif dari sisi supply. Dari sisi demand, perekonomian China menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada Agustus. China merupakan konsumen Oil terbesar kedua di dunia, ketika perekonomiannya membaik, permintaan tentunya bisa meningkat.
Meski demikian, melihat posisi Oil saat ini berada di level tertinggi sejak 8 November 2022, ada kemungkinan terjadi aksi profit taking. Selain itu, bank sentral yang akan menahan suku bunga tinggi lebih lama guna menurunkan inflasi membuat risiko resesi kembali meninggi.
Pada pekan lalu, bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) kembali menaikkan suku bunga dan mengatakan akan ditahan lebih lama lagi. The Fed dan bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) yang akan mengumumkan kebijakan moneter pekan ini juga diprediksi akan menyatakan suku bunga tinggi ditahan lebih lama.
Ketika risiko resesi terjadi, maka permintaan Oil berisko berkurang. Sentimen tersebut membuat aksi profit taking Oil kemungkinan akan berlanjut malam ini dan harganya berpotensi turun.
Berikut referensi teknikal untuk mengambil posisi sell untuk produk Oil:
Entry Price: 91,32 - 91,54
Level Support 1: 91,19
Level Support 2: 90,76
Level Resistance 1: 91,68
Level Resistance 2: 92,14