panahkanan

Detail Berita

image
compass
Macro Overview
Sesi Amerika

Data CPI AS Diprediksi Naik Tinggi, Gold Berpotensi Turun Lagi

Gold
Oil
EURUSD
GBPUSD
USDJPY
Nasdaq

12 Mei 202618:01 WIB


Pasar finansial bergerak dengan volatilitas tinggi pada awal perdagangan sesi Eropa Selasa (12/5/2026). Pasar masih memantau perkembangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas.

Seperti diketahui Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dari Iran. Trump bahkan menyebut perundingan kedua negara di ambang kegagalan yang berpotensi memicu konflik militer lanjutan. Selain hubungan kedua negara, rilis data inflasi (consumer price index/CPI) AS berpeluang memicu pergerakan yang lebih besar pada perdagangan sesi AS.

Berikut data dari Trading Central:

  • CPI AS (April/year-on-year) pukul 19:30 WIB; forecast 3,6% vs sebelumnya 3,3%

  • Core CPI (April/year-on-year) pukul 19:30 WIB; forecast 2,6% vs sebelumnya 2,6%

GOLD Hubungan AS-Iran yang kembali memanas membuat harga Gold (XAUUSD) turun pada awal perdagangan sesi Eropa, menyentuh level terendah harian US$4.687,54 per troy ons. Dibandingkan penutupan perdagangan Senin Gold turun nyaris US$47 (470 pip).

Pergerakan Gold sedang mengalami anomali; sebagai aset safe haven, harganya biasanya naik saat konflik geopolitik memanas. Tetapi sejak perang AS-Iran pecah, Gold justru tertekan. Penyebabnya, konflik AS-Iran memicu kenaikan harga Oil yang berdampak ke inflasi di AS. Semakin tinggi inflasi di AS, semakin besar kemungkinan The Fed tidak menurunkan suku bunga tahun ini, yang memberikan sentimen negatif ke Gold.

Melihat hal tersebut, jika data inflasi AS malam ini dirilis lebih tinggi dari forecast, Gold berpotensi tertekan.

OIL Hingga awal perdagangan sesi Eropa, harga Oil (CLS10) naik US$3,48 ke US$101,72 per barel. Memanasnya hubungan AS-Iran menjadi pemicu kenaikan Oil. Pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan kembali terjadi konflik militer yang dapat berakibat pada kerusakan fasilitas energi di Timur Tengah.

Sentimen tersebut masih akan mempengaruhi pergerakan Oil pada perdagangan sesi AS.

EURUSD EURUSD mampu memangkas penurunan setelah sempat merosot 400 poin (40 pip) ke 1,17395. Selain hubungan AS-Iran, rilis data inflasi Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama.

Rilis data yang lebih tinggi dari forecast berpotensi memberikan tekanan tambahan ke EURUSD.

GBPUSDGBPUSD anjlok lebih dari 1.000 poin (100 pip) ke kisaran 1,35000 pada awal perdagangan sesi Eropa akibat isu politik di Inggris. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer didesak mundur akibat kekalahan Partai Buruh dalam Pemilu di beberapa wilayah.

Ketidakpastian situasi politik tersebut memberikan tekanan bagi GBPUSD. Tekanan akan semakin besar jika data inflasi AS dirilis lebih tinggi dari forecast.

USDJPY USDJPY bergerak volatil dalam rentang 156,766 - 157,744 pada awal perdagangan sesi Eropa. Pasangan mata uang ini sempat turun tajam dalam waktu singkat akibat isu intervensi pemerintah Jepang yang membuat yen kuat.

Namun, USDJPY kembali rebound menunjukkan dolar AS masih unggul dalam kondisi saat ini, terutama terkait isu hubungan Amerika Serikat dengan Iran. Sentimen positif bagi USDJPY akan bertambah jika data inflasi AS dirilis lebih tinggi dari forecast.

NASDAQ Nasdaq turun 225 indeks poin ke 29,173 hingga awal perdagangan sesi Eropa. Penurunan terjadi akibat aksi profit taking setelah rally tajam Nasdaq dalam 6 pekan terakhir dan berulang kali memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Dengan hubungan AS-Iran yang kembali panas, profit taking berpotensi berlanjut pada perdagangan malam ini. Apalagi jika inflasi AS dirilis lebih tinggi dari forecast, pasar akan melihat The Fed kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunga pada tahun ini yang bisa menjadi sentimen negatif bagi Nasdaq.

Dapatkan update mengenai promo, trading tools, dan berita terbaru dari MIFX

warn

close